• Beranda
  • Tentang Kami
    Sejarah Visi dan Misi Tata Tertib Jam Layanan Fasilitas Pustakawan Struktur Organisasi Berita Perpustakaan
  • Layanan Perpustakaan
    Layanan Baca di Tempat Layanan Sirkulasi Layanan Referensi Layanan Penelusuran Informasi Layanan Bimbingan Literasi Informasi Layanan Ekstensi
  • Layanan Referensi
    Layanan Meja Informasi Layanan Bimbingan Penggunaan Koleksi Referensi Layanan Penelusuran Layanan Konsultasi Layanan Kesiagaan Informasi
  • Keanggotaan
    Area Anggota Buku Tamu Survey Kebutuhan Survey Kepuasan Pendaftaran Anggota Online FAQ
  • OPAC
  • Pilih Bahasa : Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu
Semua Komputer Filsafat Agama Sosial Bahasa Sains Teknologi Seni Sastra Sejarah

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}

Kenapa Industri Makanan Perlu Beralih ke Kemasan Kertas


Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika dalam acara media briefing di kantor Kemenperin, Jakarta, 21 April 2026. Tempo/Nandito Putra.

Sebanyak 48 persen industri makanan dan minuman masih menggunakan kemasan plastik. Sementara 28 persen di antaranya menggunakan kertas untuk kemasan.

KEMENTERIAN Perindustrian mendorong pelaku industri makanan dan minuman meningkatkan penggunaan kemasan berbasis kertas sebagai alternatif pengganti plastik. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menuturkan, langkah tersebut efektif untuk menekan ketergantungan terhadap plastik di tengah lonjakan harga.

Kenaikan harga plastik dipicu terganggunya pasokan nafta dari Timur Tengah akibat eskalasi konflik Iran–Israel yang berdampak pada industri petrokimia global. “Kami mendorong kemasan berbasis kertas karena masih banyak industri makanan dan minuman yang bisa mengutilisasi kemasan ini,” ujar Putu dalam media briefing di kantor Kementerian Perindustrian, Selasa, 21 April 2026.

Menurut dia, dari sisi harga, kemasan berbasis kertas sebenarnya cukup kompetitif. Namun, pengembangannya sangat bergantung pada kesiapan ekosistem industri serta investasi di sektor tersebut. “Ini mungkin nanti yang menjadi game changer,” katanya.

Putu menjelaskan, saat ini sekitar 48 persen kemasan industri makanan dan minuman masih berbasis plastik, sedangkan penggunaan kemasan kertas telah mencapai sekitar 28 persen.

Dengan porsi tersebut, ia menilai kemasan kertas sudah cukup luas digunakan di Indonesia. Selain itu, jenis kemasan ini juga dinilai memiliki daya tahan yang baik untuk menjaga kualitas produk. “Seperti untuk susu, jus, dan banyak produk lainnya. Ini sudah kompetitif,” ujarnya.

Sebelumnya, Putu mengatakan stok bahan baku plastik untuk industri makanan dan minuman tersedia untuk dua bulan ke depan. Kondisi ini membuat pelaku industri mulai khawatir akan pasokan plastik ke depannya.

Berdasarkan rapat Kementerian Perindustrian dengan produsen plastik, Putu menuturkan untuk saat ini bahan baku plastik sudah kembali tersedia. Sebelumnya, kata dia, stok bijih plastik memang sempat tersendat, tapi kini sudah kembali tersedia. “Sekarang sudah tersedia dan tidak ada kekhawatiran. Nah, memang dikhawatirkan harganya naik."

Ia menuturkan, sekarang yang paling pening adalah memastikan ketersediaan pasokan. Guna menekan harga, ia mengatakan terdapat sejumlah usulan dari Kementerian Perindustrian pelaku industri.

Salah satunya yakni pembebasan bea masuk impor LPG untuk industri plastik. “Nah ini yang diusulkan oleh Pak Menteri bagaimana untuk sementara bisa dibebaskan bea masuknya,” katanya.

Ketegangan geopolitik yang mengganggu rantai pasok energi menyebabkan harga plastik melambung. Sekitar 70 persen pasokan global nafta berasal dari Timur Tengah. Nafta adalah cairan hasil olahan minyak bumi yang berfungsi sebagai bahan baku utama dalam industri petrokimia untuk memproduksi plastik.

Kenaikan harga resin plastik memberikan tekanan langsung dan signifikan terhadap biaya operasional dunia usaha, khususnya sektor yang sangat bergantung pada kemasan seperti makanan dan minuman, FMCG, farmasi, logistik, dan retail.

#industri #kertas

Sumber: https://www.tempo.co/ekonomi/kenapa-industri-makanan-perlu-beralih-ke-kemasan-kertas-2130672

PERPUSTAKAAAN SMK-SMTI MAKASSAR
PERPUSTAKAAAN SMK-SMTI MAKASSAR
  • Masuk sebagai Admin
  • Download Buku Panduan Aplikasi

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Statistik Pengunjung

Hari ini 141
Online: 141 Onsite: 0
Bulan ini 496
Online: 467 Onsite: 29
Total 17.037
Online: 1.494 Onsite: 15.543

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek


© 2026 — Berbasis SLiMS | Dikelola oleh ePERPUS WhatsApp

Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik

Isilah satu atau lebih bidang di bawah ini untuk mempersempit pencarian Anda

Kemana ingin Anda bagikan?
Beranda OPAC Login Daftar